Senin, 31 Oktober 2011

Sang Pengembara

Hari ini aku baca buku karangan Hamka. Ia tulis kisah hidup Jamaludin Al Afghani yang tersohor itu. Perjalanannya itu seperti sinetron. Tentu dengan alur yang ciamik. Mantap.

Sebelumnya aku pernah baca otobiografi Hatta. Aku pernah baca kisah tentang Syahrir. Juga tak ketinggalan, tentang Tan Malaka yang misterius itu. Kebetulan ketingganya berasal dari Minang. Suku yang tersohor sebab jiwa perantaunya itu.

Kenapa ya, aku begitu tertarik dengan orang-orang yang berjiwa perantau. Seakan-akan tantangan itu bukan lagi halangan. Halangan yang bikin bulu begidik. Takut setengah mati.

Tapi mereka tidak. Mereka punya visi tanpa batas. Dunia mereka tanpa tembok. Pandangan mereka lurus menusuk fatamorgana. Aku yakin, mereka layak menjadi orang besar. Oleh sebab daya tahannya yang luar biasa.

Lihat Al Afghani. Di setiap negeri yang ia kunjungi, namanya selalu harum. Ia memang besar di Afghanistan, tapi setelah dewasa ia mengembara. Mesir, India, Iran, serta negeri timur tengah lainnya. Tak hanya itu, ia pernah ke London, Paris, Muenchen, sampai St Petersburg. Ia bukan diplomat. Tapi ulama!

Bagaimana bisa, di abad 19, ia sudah keliling banyak negara untuk berdakwah. Agar jiwa-jiwa setiap muslim yang dikunjungi membara-bara. Seperti api disiram bensin.

Aku tak paham, bagaimana ia bisa menginspirasi hanya dengan 18 edisi majalah yang diterbitkan di Paris. Padahal kau tahu sendiri, Paris bukan kota yang ramah untuk sebuah kata: Tuhan.

Lain hal dengan Hatta dan Syahrir. Mereka jauh ke Belanda, memang buat studi. Tapi kala itu, mereka masih sangat belia. Berminggu-minggu arungi lautan untuk belajar. Kemudian setelah di sana, ia terlibat dalam aktivitas pergerakan. Membela Indonesia dari negeri jauh.

Tan lebih unik lagi. Selama 20 tahun, ia keliling puluhan negara. Tidak hanya Asia, bahkan Eropa. Ia pun sempat hadir mewakili bangsa Asia saat kongres Internasionale Kedua. Bisa dibilang, ia sejajar dengan "Father" Mao Zedong.

Aku pun semakin sering membaca biografi. Buku itu ibarat kawan seperjuangan si orang besar, yang datang ke rumahku, untuk sekedar ngeteh bareng dan bercerita banyak tentang kesan-kesannya terhadap pemimpin besar. Juga tentang kegigihannya, keberaniannya, kejantanannya, dan cita-citanya yang menjulang.

Aku mafhum kalau aku terasuki. Jiwaku panas dengan hentakan perjuangan. Kalah-menang, untung-rugi, ialah urusan belakang. Bahkan mati detik ini pun aku berani. Asal bersama mayatku, bersamayam panji-panji kebenaran yang aku yakini. Dulu, sekarang, dan yang akan datang.



Minggu, 30 Oktober 2011

Escape From Freedom

Hari ini aku pinjam buku bagus. Catatan hariannya Ahmad Wahib. Padahal 9 bulan sebelumnya aku sudah pinjam buku ini. Tapi, aku kepingin lagi membaca. Aku suka buku ini, sebab isinya reflektif sekaligus ekspresif. Aku bisa baca kegalauannya dengan jelas. Mungkin, buku itu adalah "kawan" Wahib dari keterasingannya.

Hari ini aku ketemu sahabat perjuanganku dulu di kajian. Sudah hampir sebulan kita tidak bertemu. Tadi, meski hanya sebentar saja -saat jeda di antara adzan dan iqomat-, aku sempat berbincang, tanya-tanya kabar. Kita banyak berbagi informasi. Hal itu seperti membuka mata hatiku. Sekarang lebih terang.

Aku pernah baca karya Erich Fromm, seorang pemikir abad 20. Judulnya: Escape From Freedom (Keluar dari Kebebasan). Sebenarnya aku hanya sempat membaca ulasan seorang dosen sosiologi UI. Tapi dari ulasan itu saja, aku sudah bisa ambil manfaatnya.

Kata Fromm, manusia tidak dapat dipisahkan dari alam dan orang lain. Semakin bebas manusia semakin ia merasa kesepian, tidak berarti dan terasing. Kemudian, masih katanya juga, manusia menemukan rasa aman jika bersatu dan bekerja sama dengan orang lain. Yang aku heran, pernyataan Fromm tentang "semakin bebas, semakin sepi". Wah benar juga dia, ternyata tidak ada kebebasan sebebas-bebasnya seperti yang aku idamkan selama ini. Aku baru tersadar, selama ini aku salah menyikapi kebebasan itu.

Manusia selalu dirasuki rasa takut. Dan itu tidak mungkin dipadamkan. Rasa takut itu yang akan mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang. Tak mungkin ada yang mampu mengelak.

Sebagai contoh sederhana, kita ingin orang lain bertanggung jawab atas perbuatan kita yang notabene "salah". Jika situasi menakutkan dan terus mendesak maka ia akan mengorbankan kebebasannya untuk selamat.

Mengapa ada rasa takut? Aku ingat QS 2:155, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.". Jadi, menurutku, ketakutan memang sengaja disediakan Tuhan. Dan itu akan abadi. Kita hanya bisa meredamnya saja.

Bagaimana cara mengalahkan keterasingan itu? Aku mengambil kesimpulan bahwa kunci dari "perlawanan" kita terhadap ketakutan adalah dengan cara menggelar "pemberontakan" terhadap keterasingan.

Kesendirian hanyalah membuat jiwa kita dongkol. Merasa paling sial di dunia ini. Persahabatan/persaudaraan bisa jadi jalan keluar yang paling hebat untuk melawan ketakutan. Syaratnya adalah kebersatuan kita dengan manusia yang lain tetap tidak mengorbankan kebebasan dan integritas pribadi.

Aku ingat salah satu syair tombo ati,"Berkumpulah dengan orang sholeh". Ini termasuk kunci yang diberikan Sunan Kalijaga dalam menghadapi keterasingan sekaligus ketakutan dalam jiwa kita.

Kemudian aku juga teringat sebuah doa, yang inti bunyinya seperti ini: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rundungan sedih dan duka. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan penakut. Aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang dan penindasan manusia".

Mudah-mudahan, ketakutan itu mampu kita redam segera. Mari berlari dari kebebasan semu! 

Love's Still Blind: "Cinta selalu membutuhkan tongkat penuntun"

Benar kata Kahlil Gibran. Cinta tidak terdefinisi. Hanya rasa yang muncul kemudian. Itu pula tidak bisa dirasa orang lain. Hanya kita sendiri yang merasa.

Kamu tahu kenapa aku tulis ini?
Aku sedang jatuh cinta, Sob!
Tepatnya, cinta bersemi kembali.

Kira-kira cinta kami berlangsung sejak tahun 1996. Kala itu, kita bertemu di sekolah dasar. Kita menjalin kasih saat yang lain juga melakukannya. Tak tahu apa sebabnya, aku jatuh hati padamu. Yang pasti, warna gaunmu mengingatkanku pada pada keindahan langit.

Aku lihat di dadamu tersemat sebuah sepuhan apik bergambar Elang, lambang kegagahan. Aku semakin kagum.

Sekarang kau berada di peringkat tiga besar. Sepertinya juara bukan lagi mimpi. Ingatlah, 10 tahun lalu, kita bersorak ramai di Olimpico. Banjir biru langit.

Aku tahu kamu bukan orang kaya. Tak ada yang mentereng di tubuh kita. Tapi, justru, kita ingin buktikan pada dunia. Kita bisa, tanpa perlu menjadi Madrid atau City.

Aku akan terus jadi pecintamu. 15 tahun lamanya. Meski kau sempat (hampir) didegradasi karena Calciopoli, kesetiaanku sama seperti kesetiaan kawanku, pasukan La Vecchia Signora. Meski aku tak lagi mengenalmu intim. Meski kau tak sekaya dan seglamour dulu. Meski penampilanmu biasa-biasa saja, tak ada lagi galeri piala yang bertambah. Aku akan tetap setia.

***
Sementara di lain tanah, dalam umur percintaan yang relatif selisih sedikit, aku merasa bahwa nasibmu tak jauh beda.

Hatrick Van Persie ke gawang salah satu bebuyutan kita, sudah cukup jadi bukti kalau kita akan meraih kebahagiaan setelah bertahun-tahun kita paceklik.

Aku pun tak berniat berkonversi, pindah ke lain klub yang lebih mentereng. Meski tak ada sorak-sorai lagi di markas kita. Bahkan, ribuan talenta boleh saja keluar-masuk, tapi semangat itu tidak pernah luput. Aku tetap setia di bawah meriam. Yang siap menggempur dengan peluru-peluru muda. Meski kau jarang beri kami sebuah mahkota. Namanya setia, tetaplah setia.

Insya Allah, kesetiaan penuh adalah satu-satunya mutiara yang masih aku miliki. Yang hanya bisa kuberikan pada hal yang tertentu. Yang aku pegang teguh dalam setiap langkahku. Sebagai wujud besarnya rasa sayang itu. Termasuk kepadamu.

Semoga kesetiaan selalu tersemai dalam dadaku!

Jumat, 28 Oktober 2011

Cobaan Apa Lagi yang Kau Berikan?

Seharian ini, aku kutak-katik komputer. Bukan lagi service. Tapi lagi belajar Corel. Sebenarnya, aku pernah belajar. Tapi lupa. Dulu banget. Jaman-jaman ane masih kesohor sebagai desainer kenamaan. Bersanding dengan nama Ajie Notonegoro dan Ivan Gunawan.

"Eh bok, rempong cyiinnn..."

Aku ingin selesaikan satu zine baru. Yang aku tulis sendiri. Yang aku desain sendiri. Yang aku edit sendiri. Dan aku cetak sendiri.

Tapi, waktu seminggu serasa tidak cukup. Sekarang saja sudah jam berapa. Tengah malam!

Aku masih stag. Belum tahu mulai dari mana. Masya Allah, aku kok pikun gini. Tapi kita tak boleh menyerah. Aku harus menyelesaikan.

"Ya Allah Ya Tuhanku, aku memohon dengan setulus hati. Hanya satu permintaan, tidak lebih. Tolong turunkan malaikat-Mu yang paling jago Corel. Aku ingin belajar privat sama dia."



Ayo Begadang cyinnn...
Tidur abis subuh aja ya...

Dasar, Kakak yang Egois!

Kemarin aku sms adikku. Eh, kamu tahu nggak apa balasan dari dia. "Tumben kak, sms adek..,"

Sial banget kan ni bocah. Belom pernah makan sandal jepit kali ya...

Tapi setelah aku pikir-pikir, aku memang salah. Aku memang jarang kontak orang rumah. Nggak tau nih. Semenjak pisah atap, aku seperti itik kehilangan induknya. Merasa sok mandiri. Tapi kalau duit abis, kecut juga muka gua. Muka pengemis nggak tahu diri.

Masya Allah, tobat bang...

Ya, anggap saja tulisan ini bentuk pengakuan dosa. Maafin aku ya dek. Kakak emang sok sibuk. Padahal sih nggak. Kakak aja yang rada apatis. Kakak khilaf. Kamu mau maafin kakak kan dek? 

Kakak janji deh. Ke depannya, kakak akan rajin-rajin sms kamu.

Kalau kakak inget.
:D

Kamis, 27 Oktober 2011

Coba Hentikan!

Saat kau terperangkap dalam lubang hitam yang kelam; Di saat itu pula kau tak mampu bertahan; Merasakan segala kemaksiatan; Di kala kau dapatkan; Segalanya.

Aku suka lagu "Saatnya Hijrah" dari Ketapel Jihad. Lagu itu nusuk banget. Kenapa ya, aku kok langsung jatuh hati sejak pertama kali dengar. Apalagi pas vokalisnya melengking berkata,"Coba Hentiiikkaaannn...!".

Lagu ini bernafas melodic punk. Yah, sebangsa Blink 182, Greenday, SUM 41, dan ST 12. Nahloh, ngapain tuh ST 12 ikut-ikut?

Pokoknya, intinya, dan poin utamanya adalah aku suka lagu ini. Selain liriknya bagus, aransemennya juga ciamik. Aku suka. Aku suka. Hore!

Simoncelli, Kok Kamu Duluan Sih?!

Hatiku gundah gulana. Minggu kemarin Simoncelli, pembalap harapanku, tewas mengenaskan. Meski sedih, aku sempat dihibur Old Trafford. Yes, MU kalah! Alhamdu...lillahh...

Tapi, malam tadi, kembali gundah. Aku teringat lagi Supersic. Aku ingat cara matinya. Kenapa kamu paksakan untuk bangun Sic? Kau tahu mau rubuh. Masih maksa aja...

Tapi, aku kagum sama kamu. Kamu itu pahlawanku Sic. Kamu bisa membikin adrenalinku berontak. Kamu bisa bikin akalku melayang. Sikapmu bikin aku tertawa. Agresifitasmu bikin aku bergairah. Ahhh...

Sic, aku tahu kamu orang baik. Meski Pedrosa, Lorenzo, Stoner, benci abis sama kamu, kamu toh tetap berbaik hati. Kamu masih mau salaman minta maap sama Pedrosa. Meski Pedrosa melengos. Kamu dengan jantan mengakui kesalahan di depan banyak orang, pas Lorenzo mengumpat cara balapmu. Kamu masih bisa senyum, meski badan berdarah-darah, habis jatuh. Kamu masih nekat bangun setelah guling-guling keluar lintasan.

Aku sepakat sama yang lain. Kamu itu jelas titisan Rossi. Rossi dulu juga agresif. Sudah berapa orang jadi korbannya. Mereka jengkel. Tapi Rossi tenang-tenang aja. Kamu itu, bermental juara Sic!

Aku ingat pas Rossi ngadalin Gibernau. Sama kayak kamu pas ngadalin Pedrosa. Intinya, persetanlah dengan perkataan orang. Kamu harus tutup kuping. Ingat, bukan hanya pembencimu, pendukungmu juga banyak kok. Bahkan jauh lebih banyak.

Mangkannya Sic, ente nyantai aja dah. Gua kan pendukung setia lu. Lu harus bangga dong. Soalnya, dukungan gua itu mahal harganya. Nurdin Halid aja, yang sujud-sujud minta dukungan gua pas lagi diserang banyak orang, gua ludahin mukanya.

Enak aja, masak minta doa gua, dia cuma bayar 2 milyar. SBY aja, sambil ngemis-ngemis ke rumah gua, bayar 10 milyar. Tunai beserta seperangkat alat sholat. Lho?!?

Nah, gua dukung lu Sic, Gratis! Yah, paling gua minta oleh-oleh dari Itali aja kalo ente ke Indonesia.

Aduh, kok ngelantur sih.

Tapi, sumpah Sic, pas ane lihat di TV, sepulang dari kampus, ane sedih gan. Ente lapor ane gan, siapa yang ngisengin ente? Sebut nama ane tiga kali, ane dateng gan.

Soal helm ente yang lepas. Menurut ane, itu gara-gara ente gak mematuhi peraturan Pak Polantas. Kata Pak'e, "Make helm harus sampai bunyi 'klik". Wah, padahal helm ente AGV. Mahal tuh boy. Jaman ane SMA, tuh helm kisaran 500 rebu. Masak bisa lepas sih?

Oh iya, iya, ane inget. Rambut ente yang bermasalah. Kamu gak pernah sekolah ya? Kalo kamu sekolah di Indonesia, rambut kayak kamu itu akan dicukur habis sama guru BP. Besok-besok, rambut ente potong ya gan. Kalau nggak punya duit, bilang ane. Paling mahal ceban doang gan.

Kalau ane boleh prediksi, kayaknya ban ente bocor, makannya motor ente oleng. Besok-besok, kalau nambah angin, deket rumah ane aja Sic. Ane kenal sama tukang tambal bannya. Profesional dia.

Ya, tapi percuma juga ane nasehatin ente. Ente sudah pergi. Jauh sekali. Ane kangen ente gan.

Moncel...Kok lu duluan sih matinya! Kan kita sudah janjian, mau barengan. Ente lupa gan?

Tuh kan, air mata gua netes gan. Gua kehilanganlu. Sangat!