Senin, 02 Januari 2012

Bulan

Biarlah engkau menjadi bulan
Tetap indah dipandang dari kejauhan

Biarlah engkau menerangi dengan temaram
Meski gelap,

Aku tahu itulah usaha terbaik yang coba engkau berikan
Pada kebahagiaan

Malam ini,
Ya malam ini....
Adalah malam bahagia bagi matahari
Karena bulan telah menerbitkan senyum tulusnya
Meski sempat tertutupi awan

Adik Bertanya Tentang Kesuraman

Ketika seorang adik bertanya,
"Mengapa isi kisahmu begitu suram?"
Lalu aku membalas
"Malam ini, kesuraman itu telah berubah"
Ia bertanya lagi
"Siapa yang mengubahnya?"
Aku menjawab
"Ada rembulan yang mengajakku tersenyum malam tadi"
Ia bertanya kemudian,
"Dimana bulan itu sekarang?"
Aku menjawabnya,
"Ia sedang bergegas pulang."
Sebelum pulang, aku membisikkan kata padanya:
"Tidurlah yang lelap"

Minggu, 01 Januari 2012

Mengapa Aku Jadi Ingat

Mengapa aku jadi teringat
Setiap orang terdekat yang kini
Berada dalam kuburnya

Mengapa aku jadi teringat
Bahwasannya aku ini
Bukanlah siapa-siapa

Mengapa aku jadi teringat
Bahwa aku lahir dalam ketiadaan
Untuk kemudian mati pula dalam ketiadaan

Tahukah engkau,
Bahwa sajak ini ditulis bersama air mata
Mengalir deras dari kelopak

Aku rindu saat air itu keluar dari kediamannya
Dalam gelap dan kesendirian

Aku terus bertanya-tanya

Tentang hidup setelah mati
Tentang mati setelah mati
Tentang matinya kematian
Tentang kematian yang tak lagi hidup

Ruang Keluarga

Tahukah engkau, kenapa aku tertawa saat ini?
Oh, bukan.
Aku tidak sedang mengejekmu
Aku sedang mengenang

Betapa bahagianya aku,
Menjadi manusia yang dipenuhi dengan
Berbagai kerisauan, berbagai rintangan
Datang silih berganti

Entah, sampai kapan lagi
Aku bisa menikmati hidup seperti ini
Berbagai kegagalan yang selama ini berderet
Di lembaran hidup
Sepertinya masih belum cukup
Menjadikan aku lebih dewasa

Aku senang, karena punya banyak cerita kegagalan
Nanti, ya suatu hari nanti
Akan kuceritakan sesuatu pada anak-anakku
Pada ruang keluarga yang sempit itu
Tentang bagaimana ayahmu ini, bertahan dari badai
Meski, nantinya mati juga...

Retoris

Tanda tanya yang telah ditebar
Seperti paku jalanan
Kini telah mendapat jawabannya
Dengan amat jelas

Aku senang sekali
Meski, jawaban itu sudah terkira
Dan aku sudah siap menerima
Apa adanya

Tak kusangka, begitu cepat kita berjumpa
Begitu cepat kita bersama
Begitu cepat aku merasa
Begitu cepat aku kehilangannya

Hampanya pertanyaan
Mewakili hampanya perasaan

Aku kehilangan asa untuknya
Tapi tidak kehilangan asa untuk masa depanku
Aku terkesan pada sebuah kalimat
"Hidup tidak boleh setengah-setengah"

Aku mencoba berdiri dengan tegar
Aku mencoba memasang wajah yang ramah
Meski aku tahu
Itu mengelabui apa yang ada di hati

Cahaya masih menunjuk jauh ke jalan depan
Aku berharap, hari depan lebih baik
Harap adalah doa
Tapi kesadaran atas realita yang ada
Itu jauh lebih penting

Kita mulai lembaran baru
Dengan kertas putih bersih nan suci

Menyerahnya Matahari

Matahari tak akan mampu mengejar bulan
Seberapapun besarnya kekuatan
Karena bulan kini telah memilih
Tetap berada pada rotasinya

Matahari pun meninggalkan asa
Bagaimanapun besarnya ia
Tak akan sanggup mendekati bulan
Apalagi menjadikannya
Salah satu bagian dari sekelebat cahayanya

Sajak Tanpa Arti

Tiap kata tidak lagi punya arti
Kata hanya barisan huruf
Tanpa lagi punya perasaan
Untuk diungkapkan

Kata kini tidak lagi bersinar
Menjadi kawan dari temaram yang suram

Kata adalah himpunan huruf
Tanpa makna